Pendahuluan

Prakiraan Sejarah Marga Batak

Semua orang Batak tahu bahwa Si Raja Batak yang menjadi leluhur orang Batak itu dulu bermukim di kaki gunung Pusuk Buhit yaitu kampung Sianjur Mula- mula, yang letaknya kurang lebih 8 km arah barat dari Pangururan sekarang.

Dari mana asalnya Si Raja Batak hingga bermukim disitu ? Apakah dia datang kesana bersama istrinya atau sudah dengan anak cucunya ? Atau barangkali dengan rombongan lainnya. Mengenai hal ini belum ada penjelasan yang dapat dijadikan pegangan.

Ada yang mengatakan Si Raja Batak dengan rombongannya datang dari Thailand terus ke Semenanjung Malaysia, lalu menyeberang ke Sumatera dan masuk ke pedalaman. Tidak dijelaskan dalam rangka apa Si Raja Batak dengan Rombongannya masuk kepedalaman tersebut. Ada juga yang mengatakan dari India melalui Barus, dan yang lain mengatakan dari Alas Gayo berkelana keselatan hingga tertarik bermukim kaki bukit pinggir danau Toba itu.

Penulis tidak mempermasalahkan dari mana asal usulnya akan tetapi ingin mengetahui kira kira tahun berapa Si Raja Batak bermukim di Sianjur Mula-Mula . Kalau kakek moyang Si Raya Batak yang disebut berasal dari luar Sumatera, itu dapat diterima akal berbareng dengan masuknya kebudayaan Hindu ke pulau – pulau di Nusantara ini. Tetapi agar lebih jelas, adalah sangat menolong bila kita dapat mengetahui kira- kira kapankah masa hidup Si Raja Batak di Sianjur Mula mula tersebut. Data akurat untuk itu tidak ada. Satu- satunya jalan untuk mengetahuinya adalah melaui perhitungan sundut, yaitu waktu satu generasi antara ayah dan anak. Ada yang menyatakan satu sundut itu 40 tahun. Ada juga yang mengatakan 30 tahun. Lalu kita kita ambil jalan tengah 35 tahun satu sundut. Artinya rentang waktu antara ayah dengan anak rata- rata 35 tahun antara amang mangulahi ( ayah kakek ) dengan anak mangulahi kurang lebih 100 tahun.

Apabila Si Raja Batak nomor 1, anaknya Guru Tateabulan nomor 2, cucunya Tuan Sariburaja nomor 3, seterusnya sampai kepada penulis buku ini nomor 22 dari Si Raja Batak. Saat buku ini ditulis anak saya sudah berumur 22 tahun yang menjadi generasi ke- 23. Dengan demikian masa hidup Si Raja Batak adalah 22 kali 35 dan ditambah 24 tahun adalah 794 dan saat ini tahun 2018 maka Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1.224 , dengan pengurangan 2.018 dikurang 794.

Kita bandingkan perhitungan sundut ini dari Si Raja Batak ke Si Singamangaraja XII. Si Raja Batak , anaknya Raja Isombaon, cucunya Tuan Sorimangaraja, dan seterusnya Si Singamangaraja XII adalah generasi ke – 19. Si Singamaraja XII meninggal tahun 1907, dan pada saat itu anaknya Raja Buntal yang menjadi generasi ke – 20 sudah beranjak dewasa sekitar 18 tahun. Dengan demikian dari Si Raja Batak ke Raja Buntal ( 1907 ) sudah ada 19 sundut. Jadi masa hidup Si Raja Batak diperkirakan 19 kali 35 tahun sebelum tahun 1907 dan ditambah 18 tahun anaknya maka hasilnya Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1.224.

Perhitungan sundut dari Si Raja Batak ke atas untuk mengetahui perkiraan tahun kehidupan Raja Odop Odop adalah 6 sundut dari Si Raja Batak, jadi perhitungannya adalah 6 kali 35 dikurang 1.224 yaitu sekitar tahun 1.014 . Ini adalah perhitungan perkiraan dan bisa juga sebelum tahun 1.014 kalu perhitungan sundutnya 40 tahun. Raja Odop Odop ini diyakini sebagai kakek moyang dari Si Raja Batak yang tidak bisa dibantah lagi oleh generasi penerus saat ini.

Perlu rasanya kita perhatikan apa – apa yang terjadi di daerah yang berdekatan dengan tempat bermukim Si Raja Batak di Sianjur Mula – Mula tersebut. Sejak tahun 692 M, Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya ke daerah- daerah sekitarnya sampai ke Barus. Pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya. Hasil serangan ini membuahkan adanya kurang lebih 1.500 orang tamil bermukim di Barus dan membentuk persekutuan dagang untuk mencegah perisangan perdagangan kapur barus. Ini diketahui dari batu bertulis di Portibi bertahun 1088 M yang di baca oleh Prof. Nilakantisari guru besar ilmu purbakala di Madras.

Pada tahun 1275 Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga Pane, Haru, Padang Lawas di bawah kekuasaan Mojopahit. Selajutnya sekitar tahun 1400 kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur danau Toba meliputi Tanah karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun dan kejadian diatas, kuat dugaan bahwa Si Raja Batak diperkirakan seorang aktivis kerjaan dari timur danau Toba ( simalungun ), dari selatan danau Toba ( Portibi ), atau dari Barat Danau Toba ( Barus ) yang menyelamatkan diri atau mengungsi ke pedalaman. Bisa jadi karena terjadi konflik dengan orang- orang Tamil di Barus. Mungkin juga akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya. Diman waktu itu Si Raja Batak sebagai pejabat kerajaan yang ditempatkan di Portibi, padang Lawas atau di sebelah timur Danau Toba. Perlu kiranya dipelajari lebih jauh kejadian ditiga tempat tersebut agar dapat ditarik benang merah dengan Si Raja Batak yang bermukim di Sianjur Mula – Mula tersebut.

Ada yang mengajukan pertanyaan, Si Raja Batak apakah Guru Gumbak Na Bolon dari Kerajaan Nagur?. Dorongan untuk menelusuri pertanyaan diatas terasa kurang kuat. Sebab perginya Gumbak Na bolon dari Kerajaan Nagur didalam keterangannya itu, hanya karena tipu muslihat antara Guru Langam Banua ( pendatang baru di Nagur) dengan Guru Somalihar. Jadi tidak harus memilih tempat bersembunyi di Sianjur Mula- Mula. Selain itu kerajaan Nagur dan Aru berkuasa di Timur Danau Toba adalah sekitar tahun 1400. Padahal menurut perhitungan sundut diatas, masa hidup Si Raja Batak adalah sekitar permulaan abad 13.

Perlu diketahui bahwa sebutan Raja kepadanya bukanlah karena ada rakyat menghamba kepadanya. Gelar Raja itu diberi oleh keturunannya sebagai nama penghormatan saja. Hal serupa digunakan juga oleh keturunannya, walaupun tidak mempunyai wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Misalnya : Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dan sebagainya.